Friday, November 16, 2012

The Thirteenth Tale




“All children mythologize their birth. It is a universal trait. You want to know someone? Heart, mind and soul? Ask him to tell you about when he was born. What you get won’t be the truth: it will be a story. And nothing is more telling than a story.” ~ Diane Setterfield, the Thirteenth Tale

Margaret Lea telah menghabiskan sepanjang hidupnya berada di toko buku milik ayahnya. Ia bergaul dengan banyak penenun kisah yang berasal dari masa yang berbeda dengan masanya. Ia menyukai kisah klasik dan bersahabat dengan para tokoh klasik. Ia menyukai karya-karya mereka yang telah lama terlupakan. Margaret menjalani hidupnya seperti biasa, menyimpan ceritanya sendiri didasar hatinya dan berdiam diri bersama buku-bukunya. Jane Eyre, Wuthering Heights, The Woman in White menjadi sahabatnya. Ia menjalani kehidupannya dengan cara lama, sampai sebuah surat datang menghampirinya, dan semuanya pun berubah.

Vida Winter adalah seorang penenun cerita. Dongeng-dongengnya dikenal dunia namun kisah hidupnya tetap tinggal sebagai misteri. Ia sangat piawai merangkai sebuah kisah, menceritakan dongeng yang ingin didengar orang, memberikan ending yang membuat setiap orang puas, dan meninggalkan ruang kosong yang membuat setiap orang harus selalu menoleh kembali. Ruang kosong yang seharusnya diisi dengan kisahnya sendiri, namun ia membiarkannya tak terangkai. Tiga Belas Dongeng dan Perubahan Keputusasaan adalah karyanya yang meninggalkan misteri, buku yang setelah beredar dipasaran, ditarik kembali karena hanya memuat dua belas dongeng didalamnya. Dongeng ketiga belas tetap menjadi misteri, sampai seorang pemuda berjas cokelat datang menghampirinya dan memintanya “ceritakan padaku yang sesungguhnya”…saat itulah ia menulis surat kepada seseorang yang terlahir sebagai anak kembar. Mengapa Vida Winter memilih Margaret Lea? Mungkin karena ia pun akan menceritakan kisah anak kembar.

Margaret mengunjungi Vida Winter di rumahnya. Ia sepakat akan menjadi penulis biografi Vida Winter dengan beberapa kesepakatan. Setelah menyetujui bahwa tidak boleh ada lompatan cerita, Vida Winter menenun kisah puluhan tahun silam, kisah tentang keluarga Angelfield, tentang George Angelfied dan Mathilda, kisah Charlie dan Isabell, Adeline dan Emeline, Missus dan John-the-dig, serta kisah rumah yang mungkin berhantu.

Aku dan Margaret Lea, kami berdua sama-sama mendengarkan kisah ini dari mulut Vida Winter. Charlie dan Isabell adalah saudara kandung, Adeline dan Emeline adalah saudari kembar, Missus dan John-the-dig adalah pelayan yang setia sampai mati tetap melayani di rumah keluarga Angelfield. Ada banyak orang yang datang dan pergi, membawa aturan dan meninggalkan bekas yang membuat rumah Angelfield tidak pernah sama. Suasana rumah yang tidak terurus membuat semua tetangga menganggap rumah itu berhantu. Lalu bagaimana kisah mereka yang tinggal di rumah keluarga Angelfield?

Seseorang atau apapun itu menjadi menarik karena mengandung misteri dan buku ini sejak halaman pertama adalah sebuah misteri untukku. Ada banyak hal yang kusukai dari buku ini. Pertama, karena Margaret memiliki toko buku yang sangat kuinginkan. Kedua, karena Vida Winter menenun kisahnya menggunakan bahasa yang tidak biasa, dan Ketiga, karena kisah di buku ini tidak bisa kutebak. Aku bahkan harus membolak –balik beberapa bagian untuk kubaca ulang setelah sebuah rahasia terungkap, rahasia yang menurut Margaret sudah disadarinya namun tidak bisa kusadari, padahal kami berdua menempati posisi yang sama sebagai pendengar. Buku ini adalah referensi model baru untukku, gaya penuturan yang kusukai. Pada bagian awal, Vida Winter bercerita dari sudut pandang orang ketiga, kemudian dibagian tertentu, ia akan menggunakan “aku” untuk menuturkan ceritanya, kemudian aku pun melihat sudut pandang Hester, seorang guru yang pernah hadir dalam keluarga Angelfield, melalui buku hariannya.

Buku ini disebut-sebut sebagai sebuah karya bercirikan gothic yang mengingatkan pembaca pada nuansa klasik Wuthering Height dan Jane Eyre. Cara penuturannya mengalir dan mencekam tetapi indah. Jane Eyre terus menghiasi seluruh kisah dalam buku ini. Setiap karakter dalam buku ini memiliki daya tarik misteri, ada yang rasanya tidak pas, namun sepertinya mereka dibuat memang untuk maksud itu. Dan saat-saat Margaret sudah mulai memahami kisah Vida Winter, disaat yang sama ia membantu saya mampu memahaminya. Ketika rahasia mulai terungkap, Vida Winter dan Margaret Lea justru harus menghadapi kisahnya sendiri, hantunya sendiri, dan pergolakan jiwa mereka yang terus memaksa saya tetap tinggal sebagai satu-satunya pendengar terakhir.

“There is something about words. In expert hands, manipulated deftly, they take you prisoner. Wind themselves around your limbs like spider silk, and when you are so enthralled you cannot move, they pierce your skin, enter your blood, numb your thoughts. Inside you they work their magic.” ~ Diane Setterfield, the Thirteenth Tale

Itulah gambaran kesan selama membaca buku ini. Terimakasih untuk Gramedia telah berhasil menerjemahkan buku dengan mempertahankan gaya penuturan yang mempesona. Lima bintang kuberikan untuk penerjemah. Diane Setterfield adalah penulis asal inggris yang lahir pada bulan Agustus 1964. The Thirteenth Tale adalah novel pertamanya yang diterbitkan pada tahun 2006 dan langsung menjadi New York Times’s Bestseller. Well, this is Book Lover’s Book.


---------------------------------------------------------------------
Judul: The Thirteenth Tale (Dongeng ketiga belas)
Penulis: Diane Setterfield
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Maret 2009 (Cetakan II)
Tebal: 608 hal
ISBN: 978-979-22-4129-7
----------------------------------------------------------------------

2 comments:

  1. salah satu buku favoritku nih si =) jadi kepingin baca ulang, endingnya twisted banget ya~

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya buku ini juga langsung jadi favoritku mba..unpredictable bgt :)

      Delete