Tuesday, July 2, 2013

[Review] 1Q84 by Haruki Murakami - Jilid 1


Title: 1Q84
Author: Haruki Murakami
Publisher: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Published: Mei 2013
Pages: 512

Sekarang tahun
1Q84. 
Ini adalah dunia sejati,
tak ada keraguan akan hal itu.
Tapi di dunia ini,
ada dua bulan menggantung di langit.
Di dunia ini, takdir dua manusia,
Tengo dan Aomame berkelindan erat.
Masing-masing dengan caranya sendiri
terlibat dalam sesuatu yang mengundang bahaya.
Dan di dunia ini, tampaknya tak ada cara untuk
menyelamatkan keduanya.
Sesuatu yang dahsyat sedang bergerak.

Kesan pertama membaca karya Murakami tidak begitu bagus untukku. Norwegian Wood yang menjadi perkenalan pertamaku dengan Murakami tidak begitu kusukai. Setelah dipikirkan lagi, aku benar-benar belum bisa memahami keunikan Murakami. Berkenalan dengan karya berikutnya membuatku mulai mengaggumi sang penulis. Ide ceritanya unik dan perlahan-lahan ia mengenalkanku pada sisi lain kehidupan manusia yang sulit kupahami karena asing bagiku. I can’t stop reading it once i started.

Tengo dan Aomame adalah tokoh utama dalam kisah yang plotnya berlangsung  pada tahun 1984 ini. Apakah keduanya saling terhubung? Entahlah, meskipun kemungkinan jawabannya YA, namun tampaknya Murakami tidak ingin pembaca  terlalu cepat memahaminya. Ia menceritakan keduanya secara terpisah, bergantian bab demi bab. This was about connecting the dots. Tengo adalah seorang pria yang sejak kecil bermasalah dengan ayahnya sendiri. Sedangkan Aomame adalah wanita tangguh yang sejak kecil pun tidak nyaman dengan ajaran kedua orang tuanya dan ditinggal bunuh diri oleh satu-satunya sahabatnya. Mereka tidak memiliki ikatan mendalam dengan siapapun dan mengaku tidak punya masa depan.

Plot cerita bermula ketika Aomame mengirimkan seorang lelaki yang dianggap brengsek ke dunia lain dengan cara yang amat halus. Ia bergabung dengan wanita paruh baya yang membela perempuan-perempuan lemah yang diperlakukan tidak adil oleh para lelaki brengsek. Setelah melakukan tugasnya, ia mencari pria tak dikenal dan bersetubuh untuk melepaskan kepenatannya. Ritme hidupnya seperti itu setiap hari, sampai-sampai suatu saat ia menyadari langit memiliki dua bulan, besar dan kecil. Inilah teka-teki pertama yang disodorkan oleh Murakami.


Di tempat lain, Tengo yang sehari-harinya mengajar bimbel matematika dan menulis novel, mendapat tawaran dari seorang Editor, Pak Komatsu, untuk menjadi ghost writer sebuah kisah yang diikutsertakan dalam sayembara sastra. Kisah tersebut berjudul Kepompong Udara, ide ceritanya menarik namun cara penulisannya parah. Kejahatan dunia sastra itu dimulai dengan perkenalan antara Tengo dan sang penulis asli, Fuka-Eri, seorang gadis menawan yang baru berusia 17 tahun. Tak disangka respon Fuka-Eri positif, bisa dikatakan bahwa Fuka-Eri tidak peduli pada cara penerbitannya, ia hanya ingin bercerita, tidak masalah siapa yang menuliskan cerita itu.

Rasanya banyak hal yang ingin disampaikan Murakami dalam kisah ini. Begitu banyaknya sampai-sampai aku sulit memahami tujuan cerita meski telah hampir selesai membaca seluruh buku. Mungkin karena jarang membaca karya penulis asal Jepang jadi rasanya ada awan gelap yang membayangi setiap pergantian halaman. Latar belakang setiap tokoh diceritakan sangat detail. Tujuannya untuk menjelaskan cara mereka hidup di masa kini. Mempelajari sejarah seseorang atau suatu bangsa, terkadang membantu kita memahami masa kini dari orang atau bangsa itu. Karena itu aku sangat menikmati penuturan Murakami yang detail itu. Yang membuat aku tidak sabar adalah setiap teka teki yang begitu lama ditahan oleh Murakami dan karena aku tipe orang yang membaca dengan terstruktur, jadi aku harus bersabar untuk mengetahui jawabannya.

Setelah menceritakan latar belakang setiap orang. Murakami masuk pada kelompok tertentu. Sebut saja kelompok yang mempercayai gagasan revolusi Mao Zedong, kelompok Takashima, kelompok Akebono sampai kelompok Sakigake. Keempat kelompok ini akan sangat mempengaruhi Tengo pada awalnya. Darimana keterkaitannya? Semuanya berawal dari Kepompong Udara.

Tidak sulit menyelesaikan buku setebal 512 halaman ini karena rasa penasaran yang tinggi dan keunikan setiap tokoh. Sebut saja Fuka-Eri yang mengalami disleksia sehingga tidak bisa membaca atau menulis dengan baik. Ia hanya menatap satu titik kedepan namun bisa memahami segala sesuatunya dengan baik, tentu saja sang tokoh tetap memiliki bagian misteri yang tidak dilupakan oleh Murakami. Ayah Fuka-Eri adalah pelopor awal kelompok Sakigake, namun suatu hari Fuka-Eri datang mengunjungi teman ayahnya, Profesor Ebisono tanpa penjelasan apa-apa. Kedua orang tuanya menghilang tanpa kabar dan kelompok Sakigake yang tadinya sangat terbuka dengan kebiasaan bercocok tanam berubah menjadi sekte keagamaan yang tertutup. Satu-satunya hal yang diceritakan oleh Fuka-Eri kepada Tengo dan profesor Ebisono yang diyakini berhubungan dengan sekte Sakigake adalah Orang Kecil, hanya kata Orang Kecil tanpa penjelasan siapa mereka. Another riddle.

Profesor punya kekuatan besar dan kebijaksanaan dalam. Tapi Orang Kecil juga punya kebijaksanaan dalam dan kekuatan besar tidak kalah sama Profesor. Hati-hati di dalam hutan. Hal yang penting ada di dalam hutan dan di dalam hutan ada Orang Kecil. Untuk tidak dicederai Orang Kecil harus menemukan sesuatu yang tidak dimiliki Orang Kecil. Dengan begitu bisa lewat hutan dengan selamat...mungkin Orang kecil marah karena menulis Orang Kecil dengan huruf (hal 503).

Oo apa artinya, aku pun belum tahu. Yang pasti cerita ini masih berlanjut. Aku baru selesai membaca jilid 1 dan hanya punya gambaran samar mengenai keseluruhan cerita. Siapa Orang Kecil ini? Membaca bagian tentang Orang Kecil, selalu dihubung-hubungkan dengan Bung Besar dari karya George Orwell. Apakah keduanya memiliki keterkaitan? Empat bintang untuk om Murakami :D

Beberapa Quote yang memorable dalam buku ini,
“Kekerasan tidak selalu bersifat fisik, luka tidak selalu mengeluarkan darah” (hal 403)
Apakah anda ingin melanjutkan mengarang novel? Novel merupakan salah satu bentuk untuk mengungkapkan pemikiran. Kebetulan kali ini saya menggunakan bentuk novel, tapi kali berikutnya saya belum tahu akan menggunakan bentuk apa” (hal 379) – Quote yang bagus untuk para penulis yang sering kali terbeban dengan keberhasilan novel pertama dan keraguan terhadap karya berikutnya.
PS: Terjemahannya bagus.

18 comments:

  1. hihihi sama, saya juga pas mulai baca ini ga bisa berhenti. paling suka kalo Tengo dan Komatsu mulai ngobrol panjang ~:D

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya dialognya cerdas ya..aku dibikin penasaran nih sama om murakami :D

      Delete
  2. syukurlah ternyata terjemahannya bagus.. buku ini kayaknya berat untukku, klo terjemahannya jelak malah tambah berat ntar

    ReplyDelete
    Replies
    1. ehh gak kok luna..buku ini gak berat..cuma memang penuh misteri :)

      Delete
  3. waduh... udah baca nih... jadi tambah penasaran karena menurut review-mu bagus :))) eh... eh... btw, namaku di link-mu salah loh... Namaku Ratih Dwi, BUKAN Dewi... hahahaha

    salam

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wahh sorry ya salah nama..tapi udah kuupdate kok..makasih sudah bantu koreksi.

      iya menurutku 1Q84 bagus sih, idenya unik :)

      Delete
  4. setelah membaca buku 1Q84 Murakami ini, sedikit banyak saya terpengaruh dengan alur ceritanya yang sarat dengan teka-teki. Memang hidup menjadi begitu misterius kadang2. Eh, yang dari KPG untuk jilid 3 udah ada belum ya ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. yang jilid 3 belum terbit deh kayaknya, sepertinya ditunda :)

      Delete
  5. Terima kasih karena sudah menuliskan review novel dengan baik :)

    ReplyDelete
  6. Sy baru baca norwegian wood
    Dan sekarang mulai memburu buku Iq84
    Bukunya agak sulit dicari, sy hanya dapat jilid 2 dan 3, yg jilid satu masih belum dapat.

    Apakah langsung baca jilid 2 nya gpp ?
    Atau harus dari jilid 1

    ReplyDelete
    Replies
    1. 1Q84 perlu dibaca berurutan karena ceritanya bersambung.
      Di online shop masih kok 1Q84 jilid 1, contohnya di http://www.pengenbuku.net/2013/05/paket-trilogi-1q84-jilid-1-jilid-2.html

      kalau gak salah juga pernah liat di toko buku gramedia, sepertinya masih ada yang jilid 1...semoga ketemu yaa

      Delete
  7. Atau adakah yang mau meminjamkan jilid 1 nya ... ?

    Hope

    ReplyDelete
  8. terimakasih bgt sudah review buku" yg bagus...... Salam kenal :)

    ReplyDelete
  9. Ini buku belinya dmna yah ?
    Pengen baca kayaknya seru ceritanya:'D

    ReplyDelete
  10. Wah aku malah lebih dulu jatuh cinta sama Norwegian Wood, heeheheh.

    ReplyDelete