Wednesday, December 2, 2015

[Review] Cantik itu Luka by Eka Kurniawan

Title: Cantik itu Luka (Beauty is a Wound)
Author: Eka Kurniawan
Publisher: Gramedia Pustaka Utama (GPU)
Published: Januari 2015
Pages: 496p
ISBN: 9786020312583

Telah dua puluh tahun berlalu sejak kematiannya, ketika Dewi Ayu bangkit dari kuburnya dan berjalan kembali menuju rumah yang dahulu dihuninya bersama Roshina, tempat dimana ia meninggalkan anak terakhirnya yang ia tinggal mati atas kehendaknya sendiri. Dewi Ayu memang menginginkan kematian, sampai-sampai ia sengaja berbaring terlentang berbalutkan kain kafan untuk menunggu waktu kematiannya, dan sepertinya pemilik alam semesta mengabulkan keinginannya dihari ke dua belas saat ia menghembuskan nafasnya yang terakhir. Dewi Ayu punya kehidupan yang kusebut ajaib di Halimunda, desa tempat Ia dilahirkan dari ayah belanda dan ibu campuran indonesia, yang notabene adalah saudara seayah yang saling jatuh cinta dan melahirkan Dewi Ayu. Dewi Ayu tak pernah meninggalkan Halimunda, bahkan setelah Jepang datang dan memaksa seluruh keluarga Belanda dan keturunannya untuk pulang ke negeri mereka sendiri. Dewi Ayu sangat cantik, banyak pria yang berahi melihatnya, mereka menginginkan satu malam bercinta dengannya dan melakukan apapun yang pernah mereka bayangkan. Didesak oleh keadaan sebagai tahanan, diusia yang masih relatif muda, Dewi Ayu terpaksa menjalani hidup sebagai pelacur di rumah Mama Kalong, bekerja melayani tentara Jepang memenuhi kebutuhan badaniah mereka. Sebagai seorang pelacur, Dewi Ayu sangat terkenal dan merupakan yang paling mahal di Halimunda. Berhubungan badan dengan begitu banyak orang, Dewi Ayu melahirkan putri-putri yang tak pernah tahu siapa ayah mereka. Ketiga putri Dewi Ayu pun mewarisi kecantikan ibunya yang sejak dini sudah terlihat dan banyak orang menantikan mereka bertumbuh menjadi gadis sempurna yang siap untuk ditiduri. Dewi Ayu cukup kesal melihat kehidupan ketiga putrinya yang selalu bersinggungan dengan lelaki, menggoda mereka, bahkan membuat pria-pria patah hati dengan sengaja, Ia tahu kecantikan mereka suatu saat akan berakibat buruk bagi mereka sendiri. Sehingga ketika ia tahu kalau ia mengandung anak keempat, Ia berdoa supaya anak dalam kandungannya diberikan wajah yang sangat jelek. Ia membayangkan hidung seperti colokan listrik, telinga serupa panci, kulit hitam legam seperti arang sisa bakaran dan itulah yang terjadi ketika ia melahirkan putri keempatnya, dua belas hari sebelum ia meninggal. Anak terakhirnya itu diberi nama Cantik.

Terlalu panjang untuk menceritakan sinopsis novel ini, karena banyak kehidupan yang diceritakan Eka Kurniawan disepanjang 496 halaman ini, tak heran sinopsis di belakang cover buku pun ditampilkan sangat singkat. Semuanya memang bermula dari Dewi Ayu dan cerita tentang keluarganya, tapi terus terangkai bertahun-tahun kemudian melintas berbagai masa dalam Republik ini, bahkan sejak Republik ini belum benar-benar ada, sejak Belanda dan Jepang masih menguasai semua sumber daya alam dan manusia terutama di pulau jawa, hingga memasuki masa-masa kemerdekaan Indonesia, dan berlanjut sampai peristiwa yang dikenal dengan nama G30S PKI. Eka Kurniawan merajut kisah yang bisa disebut sebagai salah satu novel dengan gaya sangat klasik, tempo lambat, hampir tanpa jeda yang membuat pembaca seperti sedang maraton tanpa kesempatan mengambil napas, cara penuturan yang tampak sepadan dengan masa yang diceritakan, namun berbeda dengan novel klasik asal negara barat yang sering kubaca. Gaya klasik Eka Kurniawan tidak ragu menggambarkan gairah sex laki-laki yang muncul akibat memandang seorang perempuan cantik dengan tubuh molek, ia bahkan menggambarkan sebuah masyarakat yang tampaknya “mesum” dengan gaya  apa adanya, sampai membuatku bertanya-tanya, apakah demikian gaya hidup para leluhur kita?

Eka Kurniawan juga menggarap karakter setiap tokoh dengan apik, Dewi Ayu dan ketiga anak pertamanya, Alamanda, Adinda dan Maya Dewi punya karakter yang sangat kuat dengan ciri khas layaknya menyaksikan tokoh-tokoh yang hidup didunia nyata. Si cantik memang tidak mendapat porsi sebanyak kakak-kakaknya, tapi penulis tetap berhasil memperkenalkan perbedaan karakter si Cantik lewat halaman yang singkat itu. Tidak hanya mereka, ada juga peristiwa-peristiwa sejarah yang disinggung oleh penulis dari sudut pandang masyarakat kecil yang tinggal di desa pinggiran pantai di sepanjang pulau Jawa, yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan, dimana preman-preman berkeliaran di terminal, dan prajurit punya markas-markas di tengah kota, bahkan jailangkung tidak asing untuk tokoh tertentu. Tidak, novel ini bukan novel horor, tidak ada indikasi kesana, tapi penulis dengan jelas menceritakan tentang hantu-hantu yang berkeliaran di kota, mengganggu penduduk dan membuat beberapa orang hampir gila, hantu-hantu yang hanya akan pergi ketika tuan rumah selesai memberi mereka makan. Tidak hanya kehidupan Dewi Ayu dan tokoh dalam novel ini yang ajaib, tapi novel ini sendiri menurutku ajaib dalam segala hal. Ajaib yang kumaksud adalah adanya kejadian-kejadian aneh seperti bayi yang menghilang dari perut seorang ibu layaknya hembusan angin, hantu-hantu yang berkeliaran di Halimunda yang kubayangkan seperti hantu-hantu yang ada di kastil Hogwartz, babi yang berubah menjadi manusia (yang terakhir ini mungkin masih lazim terdengar sampai sekarang yang kita kenal dengan nama babi ngepet :D). 

Membaca novel penulis Indonesia memang sesuatu yang jarang kulakukan, mohon maaf untuk teman-teman penulis yang punya cita rasa tinggi, itu bukan karena kalian menghasilkan karya yang buruk, tapi lebih karena kebiasaanku mengenal literatur barat lebih dahulu dengan gaya khas mereka, sampai-sampai lupa dengan literatur dalam negeri yang ternyata sangat berkualitas seperti halnya buku ini. Cantik itu Luka, membuatku ingin mengenal lebih banyak hasil karya penulis Indonesia. Cantik itu Luka rasanya bukan untuk konsumsi semua usia, tidak disarankan anak dibawah umur, karena imajinasi seksual yang ditampilkan Eka Kurniawan tampak nyata dan mungkin mengganggu bagi mereka yang terbiasa membaca novel klasik barat yang sangat sopan. Ironisnya menurutku dititik ini, Indonesia punya budaya yang sangat aneh dalam arti literatur. Coba bayangkan, sejenis novel dengan gaya klasik dari negara-negara barat sangat sopan tanpa sedikit pun topik tentang sex padahal masyarakat disana lebih terbuka terhadap hal itu. Sebaliknya, novel ini yang aku sebut punya klasik versi Indonesia, sangat terbuka dan gamblang membicarakan gairah sex dengan imajinasi-imajinasi yang terkadang aneh dari setiap tokoh, sementara kehidupan masyarakat Indonesia acap kali membuat topik tentang sex tabu untuk dibicarakan. Sangat kontradiktif. Tetapi begitulah sepertinya negeri ini.

Kedua novel Eka Kurniawan sudah diterjemahkan ke bahasa Inggris dan novel mendapat judul “Beauty is a Wound” yang juga pernah dibahas di New YorkTimes dan harus kuakui dari sanalah keinginan untuk membaca buku ini muncul. Eka Kurniawan layak disebut sebagai storyteller yang cakap, karena meskipun butuh napas panjang membaca novel ini, tapi pemilihan kata dan rangkaian kalimat yang digunakan tidak membuatku bosan bahkan sebaliknya tanpa lelah terus membalik halaman hingga lembar terakhir. Empat bintang untuk karya klasik ini.

16 comments:

  1. Jadi penasaran buat baca, seperti apa sih "vulgar"nya kehidupan tempo dulu, aku kira si cantik yang banyak dibahas karena judulnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cantik itu Luka menurutku mengacu pada tokoh-tokoh utama yang cantik namun punya kehidupan yang tidak secantik diri mereka atau diibaratkan banyak tertoreh "Luka" :)

      Delete
  2. aku baru beli novel ini tadi sore.... karena ternyata bukunya sampai diterjemahin ke bahasa lain, dan best seller national juga kan..
    tapi....... aku pikir ga akan ada tentang vulgarnya. seriuskah? hmmmmmmmmmm.......
    aku kira karyanya yang kaya gitu (berbau vulgar) yang judulnya "Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas" soalnya emang ada rated 21+ hahahah....

    ReplyDelete
    Replies
    1. hmmmm rasanya beberapa buku Eka Kurniawan pasti ada bagian seperti itu kok, tp bukan tipe seperti yang ada di novel romance, hanya terkesan sambil lalu, tp cukup terang2an nyampeinnya. Cuma menurutku itu tidak mengganggu ide cerita secara keseluruhan juga :)

      A must read book ini

      Delete
  3. Ada info ga cari buku ini skrg dimana ya? Di Bandung agak susah soalnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Rasanya pernah liat di toko buku togamas buah batu deh :)

      Delete
  4. Ada info ga cari buku ini skrg dimana ya? Di Bandung agak susah soalnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. ada kok, di toga mas bubat ada, di palasari juga ada

      Delete
    2. kalau di Bengkulu saya belum ketemu sma Novel ini..Di Gramedia juga belum ada.kirenya ada gak rekommendasi?

      Delete
  5. Gua baru banget kelar baca buku ini dan bagus banget, gua juga nulis reviewnya disini heheheh : http://kukuhgiaji.com/cantik-itu-luka-surealisme-magis-dan-sejarah-pahit-indonesia/ , dan sekarang lagi lanjutin baca Manusia Harimau

    ReplyDelete
  6. Novel cantik itu luka dalam versi bahasa china kira kira dimana bisa beli novelnya ya?
    Saya butuh banget.

    ReplyDelete