Saturday, May 7, 2016

[Review] Murder on the Orient Express by Agatha Christie

Title: Murder on the Orient Express
Author: Agatha Christie
Publisher: Harper Collins (Agatha Christie Signature Edition)
Published: June 4th, 2007
Page: 347p
ISBN: 9780007119318
Bought at Kinokuniya Plaza Senayan 133K

Berada dalam Orient Express, Hercule Poirot sedang menuju London ketika kereta yang ditumpanginya itu berhenti ditengah malam karena tumpukan salju direl kereta. Keesokan harinya, sebuah mayat ditemukan dalam kompartemen terkunci dengan dua belas luka tusuk. Korban adalah Simon Rachett, seorang milyuner yang sehari sebelumnya sempat menghampiri Poirot dan meminta bantuan karena mengaku dirinya sedang dalam bahaya, namun Poirot menolak bekerja padanya. Atas permintaan temannya, M. Bouc, Direktur dari perusahaan yang mengatur Orient Express, yang kebetulan sedang berada di kereta yang sama, Poirot pun harus memulai penyelidikan dan mencari pembunuh Rachett diantara para penumpang. Ada 14 orang penumpang (termasuk Rachett dan Poirot) dan seorang kondektur di dalam gerbong yang sama dengan Poirot dan Rachett.

Dari hasil memeriksa kompartemen korban, Poirot menemukan pembersih pipa cerutu dan sapu tangan wanita berinisial huruf H serta sepotong kertas yang hampir terbakar habis yang setelah diteliti lebih lanjut membawa Poirot melirik kembali kasus lain yang pernah terjadi di Amerika yang melibatkan runtuhnya sebuah keluarga karena penculikan dan pembunuhan anak  oleh seorang criminal bernama Casetti a.k.a Simon Rachett. Dari sinilah Poirot memulai interview dengan semua penumpang dan kondektur untuk mencari petunjuk dan memahami kondisi psikologis mereka yang mungkin membantunya menemukan sang pembunuh. Apakah ini balas dendam atas kasus lama? Siapakah dari antara tiga belas orang tersangka yang punya motif paling kuat untuk melakukan pembunuhan?

Setelah membaca And Then There Were None dan The Murder of Mr. Roger Ackroyd, yang adalah dua buku terbaik sang queen of crime, agak susah menuliskan review untuk buku ini karena Murder on the Orient Express tidak kalah kuat dari sisi plot, twist dan cara Poirot beraksi. Namun berbeda dengan kisah pembunuhan Roger Ackroyd, kali ini Poirot tidak banyak berpindah tempat, karena tidak ada seorang pun yang bisa meninggalkan kereta di tengah badai salju itu. Satu-satunya kekuatan Poirot adalah mengumpulkan fakta yang ia temukan dari hasil interview, menemukan kelemahan dari kesaksian setiap orang, mencari siapa yang berbohong, membaca bahasa non-verbal mereka, serta bermain-main dengan psikologis setiap tersangka, lalu merangkainya dengan otaknya yang luar biasa brilian. Kadang-kadang ia menebak sesuatu yang bahkan membuat saya harus membolak-balik halaman untuk mencari petunjuk apa yang membuat ia mengambil sebuah kesimpulan dan menebak sesuatu. Banyak hal yang terlewatkan oleh saya sebagai pembaca padahal saya jelas-jelas membaca fakta yang sama dengan Poirot.

Saya sarankan membaca buku ini pelan-pelan supaya bisa menikmati setiap fakta, setiap kalimat dan mencerna hipotesa yang dibuat oleh Poirot. Bahkan dua orang temannya, Bouc dan Dr. Constantine yang duduk bersamanya saat interview semua penumpang pun berkali-kali terkesan dengan pemikiran Poirot. Agatha Christie sekali lagi memberikan ending yang tidak saya sangka, yang sepertinya adalah salah satu ciri khasnya ya.

2 comments:

  1. Pengen baca juga. Demam detektif gara-gara baru selesai baca novel Tangan Kelima.

    http://hapudin.blogspot.co.id/2016/05/buku-tangan-kelima-1-mobil-4-nama-5.html

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sekali baca Agatha Christie nanti ketagihan terus :D

      Delete